Marriage is not for everyone
Assalamualaikum, hey guys!
Long time no see—miss me? π
Grab your kopi, teh, atau apa pun yang lagi nemenin hari lo, karena
we’re about to have a chill but deep talk.
Di tulisan ini, gue bakal ngajak lo ngobrol santai tapi ngena
tentang hidup, pilihan, dan hal-hal yang kadang kita jalanin tanpa sempet kita
pertanyain. No heavy lecture, just real talk.
So… ready to overthink a little (in a good way)?
Alright, let’s dive in and CHILLπ
Timeline lagi rame: ada yang lamaran, ada yang nikah, ada juga yang
upload foto prewed aesthetic banget. Meanwhile, gue? Masih di fase figuring
life out. Dan surprisingly… gue fine-fine aja. Nggak panik. Nggak
ke-trigger. Nggak ngerasa ketinggalan. dan yang paling penting nggak tiba-tiba
pengen nikah cuma gara-gara orang lain upload cincin.
Karena makin ke sini gue sadar, hidup itu bukan race. Ini
bukan The Amazing Race: Marriage Edition. Nggak ada hadiah buat
siapa yang duluan sampai. Nggak ada podium buat “Best Timing Nikah 2026." Dan
nikah jelas bukan finish line yang harus semua orang capai.
Kita jarang mau ngaku, tapi realitanya? nggak semua orang yang
menikah itu benar-benar siap. Ada yang capek ditanya “kapan nikah?”, ada yang
takut dibilang ketinggalan, dan ada juga yang akhirnya jalanin karena semua
temannya udah duluan. Peer pressure is real, guys. Kadang kita
tuh bukan kebelet nikah, tapi kebelet validasi.
Dan kalau dipikir-pikir, berapa banyak keputusan besar yang kita
ambil bukan karena kita benar-benar mau, tapi karena ngerasa harus? Sounds
scary, right?
Makanya, kadang pertanyaan “kapan nikah?” kadang terasa lebih
sering muncul dibanding pertanyaan yang sebenarnya lebih penting: “Lo
bahagia nggak sama hidup lo sekarang?” Karena jujur, banyak orang sibuk ngejar
nikah tanpa pernah berhenti sebentar dan nanya ke diri sendiri: is this
really what I want, or am I just following the crowd?
Marriage is beautiful, no doubt about that. Banyak orang menemukan
kebahagiaan, support system, dan partner hidup yang benar-benar jadi
“rumah”. Couple goals? Sure. Tapi di saat yang sama, marriage
juga bukan sesuatu yang ringan. It takes effort, compromise, emotional
readiness dan kadang… kesabaran level dewa. Iya ga? (bertanya dengan
lembut dan sopan π)
And here’s the thing not everyone wants that kind of life.
And that doesn’t make them weird. Itu cuma beda jalan aja.
Ada yang justru lebih bahagia hidup sendiri, dengan kebebasan penuh. No drama, no overthinking about “lagi di mana?” every night. Bisa explore banyak hal, travelling, punya waktu buat diri sendiri, dan literally jadi CEO of their own life. (yang ini bukan CEO versi dracin ya π)
Dan pilihan itu...
Bukan karena nggak laku.
Bukan karena terlalu milih.
Tapi karena… mereka tahu apa yang mereka mau.
Dan itu ironically lebih jarang.
Choosing not to get married is not a tragedy.
It’s not a failure.
Dan jelas bukan sesuatu yang harus dikasihani.
It’s just… a different path.
Karena hidup ini bukan game yang harus unlock “marriage level” biar
dianggap berhasil.
Nggak semua orang harus main di stage yang sama.
Nggak semua orang punya storyline yang sama.
Dan jujur aja ngikutin timeline orang lain itu capek.
Kadang yang bikin ribet itu bukan pilihan hidupnya, tapi
suara-suara dari luar:
“Nanti kalau tua sendirian gimana?”
“Nggak kasihan orang tua?”
“Emang mau gitu terus?”
"Makanya jangan kebanyakan milih"
"Seleranya ketinggian tuh"
"Temenan sama dia nanti ketularan nggak nikah.”
…ketularan?
Nikah tuh tujuan hidup atau penyakit menular? ππ±
And honestly… since when happiness harus sesuai sama
checklist orang lain?
Padahal ya… hidup ini kita yang jalanin, bukan mereka. Mereka cuma
nonton. Kadang ikut komentar. Tapi yang ngejalanin konsekuensinya? Tetap kita.
Bukan mereka.
So yeah marriage is great.
But it’s not for everyone.
Sekali lagi NOT FOR EVERYONE
Dan di tengah kebisingan itu...
Being at peace with your own timeline?
That's the real flex.
Anyway, if you made it this far… respect π«‘
Thanks for staying and reading all the way through.
Gue bakal seneng banget kalau lo punya pendapat, cerita, atau
bahkan sudut pandang yang berbeda feel free to share, no judgment here.
See you on the next post—CHAOO π
Stay real, stay you, and don’t rush your timeline π
Betul banget !
BalasHapusKarna kehidupan setiap orang itu berbeda.
Nikmati dan jalani apa yang ada sekarang, semua sudah ada waktunya.